Featured Post

Keutamaan Bersedekah

Apa Saja Keutamaan Sedekah dalam Islam? Masih rajin bersedekah? Mungkin terlihat sepele tapi akan menjadi berat jika masih belum terbiasa m...

Cara Berdagang Menurut Pandangan Islam

Secara garis besar, perdagangan adalah proses tukar menukar baik barang atau jasa,sehingga menghasilkan sebuah kesepakatan.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut pendapat beberapa ulama mengenai perdagangan.

"Menukarkan harta dengan harta melalui tata cara tertentu, atau mempertukarkan sesuatu yang disenangi dengan sesuatu yang lain melalui tatacara tertentu yang dapat dipahami sebagai al-Bai', seperti melalui ijab dan Ta'athi (saling menyerahkan)" (Ulama Fikih Madzhab Hanafiyah)

"Mempertukarkan harta dengan harta untuk tujuan pemilikan dan menyerahkan milik" (Ibn Qoadamah)


Dalam Islam berdagang sangatlah disarankan untuk dilakukan. Karena, seperti yang kita ketahui bahwa Rasulullah SAW juga adalah seorang pedagang. Bahkan beliau sudah mulai belajar berdagang sejak usia dini, tepatnya pada usia 12 tahun. Rasulullah ikut berdagang bersama pamanya Abdul Munthalib.
Karena kepandaianya dalam berniaga, pada usia 15-17 tahun beliau telah menjadi pedagang mandiri.

Meskipun pada dasarnya berdagang sangatlah disarankan, namun dalam ajaran Islam ada beberapa pedoman yang harus dipatuhi pedagang dan pembeli. Tujuanya, agar kedua pihak tidak merasa dirugikan. Dan terhindar dari yang namanya Riba.
Karena, tujuan utama perdagangan adalah saling menguntungkan dan tidak membuat beberapa pihak merasa dirugikan. Selain itu, kita juga mengharap Ridha Allah, agar perdagangan kita mendapat keberkahan.

1. Jujur
Modal utama dalam perdagangan adalah kejujuran. Selain agar pembeli tidak merasa dirugikan, sikap jujur juga akan membawa dampak baik untuk kemajuan perdagangan yang ditekuni.
Kejujuran akan menghasilkan sebuah kepercayaan, dan kepercayaan akan membawa penghasilan. Hasil akhirnya, penghasilan yang didapat karena kejujuran Insya allah akan mendapat keberkahan.

2. Menjaga Kualitas Barang
Pedagang yang baik akan selalu menjaga kualitas barang yang dijualnya. Islam sangat menjaga hal ini. Karena itu, dalam Islam tidak boleh menjual barang yang rusak atau cacat.
Bukan tanpa alasan, selain merugikan konsumen, barang yang kurang bagus akan membuat pembeli kapok berniaga di tempat kita.

3. Saling Menguntungkan
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa prinsiv jual beli adalah saling menguntungkan. Maka dari itu, hindarilah kecurangan dalam perdagangan.
Bersikap terbukalah pada pembeli, dan pastikan pembeli tidak keberatan dengan harga yang disepakati.

4. Tidak Terlalu Besar Mengambil Keuntungan
Jika anda pernah belajar Ekonomi, mungkin pernah mendengar prinsiv Ekonomi yang berbunyi "Pengorbanan sekecil-kecilnya, untuk hasil yang sebesar-besarnya.".
Dalam Islam, hal itu kurang dibenarkan. Karena, Rasulullah sendiri tidak memberi contoh demikian. Justru beliau mengambil keuntungan sewajarnya. Dan jika ditanya harga asli dari barang tersebut, tanpa ragu beliau menyebutkanya.

5. Tidak Menimbun Barang
Membeli barang sebanyak-banyaknya saat persediaan melimpah, dan baru menjualnya saat persediaan minim sangat dilarang dalam Islam. Karena, hal ini dapat merugikan pedagang lain, dan mengganggu sistem pasar.
Selain itu, barang timbunan juga dikhawatirkan kualitasnya sudah mulai menurun atau kadaluarsa. Karena barang sudah terlalu lama dari waktu produksi.
Dalam syariat Islam juga tidak dianjurkan untuk menawarkan janji berlebihan saat berdagang. Apalagi sampai berani bersumpah akan sesuatu yang belum tentu kebenaranya. Karena, jika demikian anda dapat tergolong kedalam kategori menipu. Meng-claim kemampuan barang secara berlebihan.
Tawarkan barang dagangan sewajarnya, jangan dilebih-lebihkan.
Selain itu, yang tidak kalah penting dan jadi modal awal berdagang adalah niat. Jangan anda berdagang karena ingin mengumpulkan kekayaan, atau mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tapi berdaganglah untuk mencapai ridha Allah SWT.

Cukup sekian postingan kali ini. Mohon maaf jika terdapat kesalahan.

0 Response to "Cara Berdagang Menurut Pandangan Islam"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2